Hanya Mimpi
Aku berlari menuju sekolahku yang baru.
Kulihat dari kejauhan seorang security sedang berusaha untuk menutup pintu
gerbangnya. “Gawat!! Padahal ini hari pertamaku masuk sekolah.” Aku mengumpat
di dalam hati. Aku lari secepat mungkin yang aku bisa.
Sebenarnya aku adalah salah satu orang
yang tepat waktu. Tapi entah kenapa hari ini aku bisa telat. Memang benar,
semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan sekolah baruku ini. Banyak
pikiran-pikiran yang melayang-layang di pikiranku.
Aku dari Jepang. Tetapi aku tetap orang Indonesia.
Aku lahir di Indonesia dan dibesarkan di Indonesia hingga umurku lima tahun.
Kami pindah ke Jepang karena urusan pekerjaan ayahku, dan sekarang kami kembali
lagi ke Indonesia juga karena masalah pekerjaan ayahku.
Aku menapaki kakiku tepat di depan
gerbang. “Jangan ditutup dulu dong pak !” Aku mendengar suara seorang pria dari
belakangku. Jemarinya yang panjang dan lentik memegang pintu gerbang tepat di
sebelahku. Jantungku berdegup kencang melihat wajahnya yang tampan.
Matanya berwarna coklat dan dia memiliki bulu mata yang
lentik. Hidungnya mancung dan bibirnya membentuk senyuman yang sangat manis.
Dilihat dari postur tubuhnya, kemungkinan dia adalah seorang pemain basket.
Jika dilihat dari wajahnya, kemungkinan dia adalah seorang model atau paling
tidak anak laki-laki populer yang menjadi incaran gadis-gadis.
“Ini bukan waktunya terpesona!” Aku membatin dalam hati.
Aku langsung bergegas menuju kelasku. Aku merasa kalau aku mendapat rejeki
nomplok di pagi hari. Aku berlari dengan senyuman kecil di bibirku.
Ketika sedang tiba di depan kelasku, ternyata guruku
sudah berada di dalam kelas dan sepertinya baru saja selesai membicarakan
sesuatu. Maaf bu, saya terlambat.” Aku langsung meminta maaf begitu memasuki
kelas. “Tak apa, ini juga hari pertamamu kan? Nah anak-anak ini adalah anak
baru yang ibu bicarakan tadi. Sekarang, silaakan kamu memperkenalkan dirimu!”
Guruku lmempersilakan aku untuk memperkenalkan diri.
“Nama saya....” Baru saja ketika aku mulai memperkenalkan
diri, aku mendengar seseorang masuk ke kelas. “Kamu lagi ?” Guruku langsung
menegur yang ternyata seorang murid yang telat itu. “Maaf ibu.” Murid itu hanya
meminta maaf dengan wajah yang dihiasi senyumannya yang manis tetapi mengandung
arti nakal. “Sudah ! Kamu langsung duduk sana!”
“Nah Hana, silakan kamu lanjutkan perkenalan dirimu!”
Guruku mempersilakanku lagi. “Nama saya Tsubaki Hana. Panggil saja saya Hana. Saya
pindahan dari salah satu SMA di Jepang. Saya pindah ke Indonesia karena
pekerjaan ayahku.” Aku memperkenalkan diriku dengan singkat. “Sekarang, kamu
duduk di bangku yang kosong itu ya.”
Aku berjalan menuju bangku yang ditunjuk guruku. Bangkuku
berseblahan dengan jendela. Berada nomor dua dari belakang. Kulihat di
belakangku duduk seorang murid yang telat tadi.
Aku berfikir sejenak, aku merasa pernah melihatnya. Aku duduk
dan tiba-tiba... “Namaku Ben.” Laki-laki itu berbisik dari beakangku. Aku berbalik
untuk memandanginya. “Kamu yang di gerbang tadi kan ?” Tiba-tiba aku nyerocos
tanpa berfikir panjang.
Kulihat dia menaikka salah satu alisnya dan memandangku
dengan aneh. Sepersekian detik kemudian terdengar suara tawa yang keras di
kelas yang awalnya sunyi itu. Semua mata tertuju pada lelaki di belakangku. “Ben!
Jika kamu mau berkenalan nanti saja! Kita sedang dalam pelajaran !” Guruku yang
tidak senang karena kelasnya tiba-tiba gaduh marah dan membentak Ben.
Aku yang melihatnya hanya bisa menahan malu. Aku merasa
kalau wajahku sudah terlihat seperti kepiting rebus. “Maaf.” Hanya itu yang bisa
aku ucapkan. “Untuk apa meminta maaf ? Kamu benar kita sempat berpapasan di
gerbang tadi. Tapi aku tidak menyangka kalau kamu akan mengingatku?”
Mendengarnya berbicara seperti itu aku langsung membalikkan badanku.
Selama istirahat, aku hanya duduk dibangkuku . “Loh kamu
nggak makan?” Ben tiba-tiba muncuk di sampingku. “Engga, aku masih kenyang kok.”
Mendengar jawabanku Ben menarik tanganku dan meletakkan sebungkus roti di atas
telapak tanganku. “Engga usah, kamu aja yang makan.” Aku mencoba menolak denga
lembut.
Tanpa menggubris penolakanku dia dengan santainnya menuju
ke bangkunya. Aku berbalik untuk berhadapan dengannya. “Makasih banyak ya.”
Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Raut wajahnya seperti biasa dihiasi dengan
senyumnya yang terlihat seperti anak kecil. Aku berbalik dan mulai memakan roti
pemberiannya dengan senyum di wajahku.
Semenjak hari itu, Ben sering mengajakku berbicara. Sepertinya
dia menyadari kalau aku adalah orang yang pemalu dan tidak pandai berinteraksi.
Berbeda dengannya, dia adalah orang yang disenangi hampir satu sekolah. selain
karena penampilannya yang menawan, sifatnya yang peduli membuatnya banyak
disenangi orang. Walaupun dia sering membuat masalah di sekolah.
Suatu hari, Ben meminta nomor hpku. Alasannya dia ingin
meneleponku untuk menanyakan soal-soal mengenai mata pelajaran di kelas. Mendengar
alasannya itu, aku langsung memberikannya nomerku. Dia memasukkan kertas ke
dalam sakunya.
Suatu malam, Ben meneleponku. Dia bertanya mengenai PR
matematika kami. Setelah membahas PR, kami mengobrol cukup lama. Setelah itu
aku langsung pergi tidur dengan jantung yang berdegup kencang.
“Na... Hana... Hanaaa... !!” Aku terlonjak dari kursiku. Kulihat
ibuku terkejut melihat reaksiku. Kupandangi sekelilingku dengan wajah bingung. Suasana
saat itu masih sama saat aku naik pesawat.
Aku berdecak kecewa. Ternyata apa yang aku alami itu
semua hanya mimpi belaka. Mataku berkaca-kaca menahan air mata yang sedikit
lagi akan mengalir. Tetapi aku mencoba menahannya. Takut kalau ibuku akan
menyadarinya, ku usap kedua mataku dengan tisu.
Ku pandangi suasan di luar pesawat. Di luar terlihat
mendung, membuat pesawat sesekali bergetar. Kami akan tiba di Jakarta sekitar 5
jam lagi, dan aku memutuskan untuk tidur kembali.
Sesampainya kami di bandara, aku dan ibuku dijemput oleh
pamanku dengan menggunakan mobil sedannya. Di perjalanan, tiba-tiba terjadi
sebuah kecelakaan yang menyebabkan jalanan sore hari itu macet total. Dilihat dari
suasananya, sepertinya membutuhkan waktu berjam-jam untuk menghentikan
macetnya.
Aku mendengarkan lagu untuk membunuh rasa bosanku. Tiba-tiba
aku lihat seseorang melintas di samping mobil sedan pamanku menggunakan sepeda
ontel. Dia menggunakan seragam sekolah yang seharusnya tidak aku kenali. Tetapi
aku merasa pernah melihatnya, tidak aku pernah menggunakannya.
Meskipun hanya melihat sekilas siluet tubuh lelaki itu,
aku sangat yakin pernah melihatnya di suatu tempat. Aku yakin itu dia. Jantungku
berdegup kencang. Seutas senyuman menghiasi wajahku. Senyuman di wajahnya tidak
akan pernah bisa aku lupakan.
SELESAI