Senin, 01 September 2014

Cerita Fiksi

Hanya Mimpi
      Aku berlari menuju sekolahku yang baru. Kulihat dari kejauhan seorang security sedang berusaha untuk menutup pintu gerbangnya. “Gawat!! Padahal ini hari pertamaku masuk sekolah.” Aku mengumpat di dalam hati. Aku lari secepat mungkin yang aku bisa.
      Sebenarnya aku adalah salah satu orang yang tepat waktu. Tapi entah kenapa hari ini aku bisa telat. Memang benar, semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan sekolah baruku ini. Banyak pikiran-pikiran yang melayang-layang di pikiranku.
      Aku dari Jepang. Tetapi aku tetap orang Indonesia. Aku lahir di Indonesia dan dibesarkan di Indonesia hingga umurku lima tahun. Kami pindah ke Jepang karena urusan pekerjaan ayahku, dan sekarang kami kembali lagi ke Indonesia juga karena masalah pekerjaan ayahku.
      Aku menapaki kakiku tepat di depan gerbang. “Jangan ditutup dulu dong pak !” Aku mendengar suara seorang pria dari belakangku. Jemarinya yang panjang dan lentik memegang pintu gerbang tepat di sebelahku. Jantungku berdegup kencang melihat wajahnya yang tampan.
Matanya berwarna coklat dan dia memiliki bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung dan bibirnya membentuk senyuman yang sangat manis. Dilihat dari postur tubuhnya, kemungkinan dia adalah seorang pemain basket. Jika dilihat dari wajahnya, kemungkinan dia adalah seorang model atau paling tidak anak laki-laki populer yang menjadi incaran gadis-gadis.
“Ini bukan waktunya terpesona!” Aku membatin dalam hati. Aku langsung bergegas menuju kelasku. Aku merasa kalau aku mendapat rejeki nomplok di pagi hari. Aku berlari dengan senyuman kecil di bibirku.
Ketika sedang tiba di depan kelasku, ternyata guruku sudah berada di dalam kelas dan sepertinya baru saja selesai membicarakan sesuatu. Maaf bu, saya terlambat.” Aku langsung meminta maaf begitu memasuki kelas. “Tak apa, ini juga hari pertamamu kan? Nah anak-anak ini adalah anak baru yang ibu bicarakan tadi. Sekarang, silaakan kamu memperkenalkan dirimu!” Guruku lmempersilakan aku untuk memperkenalkan diri.
“Nama saya....” Baru saja ketika aku mulai memperkenalkan diri, aku mendengar seseorang masuk ke kelas. “Kamu lagi ?” Guruku langsung menegur yang ternyata seorang murid yang telat itu. “Maaf ibu.” Murid itu hanya meminta maaf dengan wajah yang dihiasi senyumannya yang manis tetapi mengandung arti nakal. “Sudah ! Kamu langsung duduk sana!”
“Nah Hana, silakan kamu lanjutkan perkenalan dirimu!” Guruku mempersilakanku lagi. “Nama saya Tsubaki Hana. Panggil saja saya Hana. Saya pindahan dari salah satu SMA di Jepang. Saya pindah ke Indonesia karena pekerjaan ayahku.” Aku memperkenalkan diriku dengan singkat. “Sekarang, kamu duduk di bangku yang kosong itu ya.”
Aku berjalan menuju bangku yang ditunjuk guruku. Bangkuku berseblahan dengan jendela. Berada nomor dua dari belakang. Kulihat di belakangku duduk seorang murid yang telat tadi.
Aku berfikir sejenak, aku merasa pernah melihatnya. Aku duduk dan tiba-tiba... “Namaku Ben.” Laki-laki itu berbisik dari beakangku. Aku berbalik untuk memandanginya. “Kamu yang di gerbang tadi kan ?” Tiba-tiba aku nyerocos tanpa berfikir panjang.
Kulihat dia menaikka salah satu alisnya dan memandangku dengan aneh. Sepersekian detik kemudian terdengar suara tawa yang keras di kelas yang awalnya sunyi itu. Semua mata tertuju pada lelaki di belakangku. “Ben! Jika kamu mau berkenalan nanti saja! Kita sedang dalam pelajaran !” Guruku yang tidak senang karena kelasnya tiba-tiba gaduh marah dan membentak Ben.
Aku yang melihatnya hanya bisa menahan malu. Aku merasa kalau wajahku sudah terlihat seperti kepiting rebus. “Maaf.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. “Untuk apa meminta maaf ? Kamu benar kita sempat berpapasan di gerbang tadi. Tapi aku tidak menyangka kalau kamu akan mengingatku?” Mendengarnya berbicara seperti itu aku langsung membalikkan badanku.
Selama istirahat, aku hanya duduk dibangkuku . “Loh kamu nggak makan?” Ben tiba-tiba muncuk di sampingku. “Engga, aku masih kenyang kok.” Mendengar jawabanku Ben menarik tanganku dan meletakkan sebungkus roti di atas telapak tanganku. “Engga usah, kamu aja yang makan.” Aku mencoba menolak denga lembut.
Tanpa menggubris penolakanku dia dengan santainnya menuju ke bangkunya. Aku berbalik untuk berhadapan dengannya. “Makasih banyak ya.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Raut wajahnya seperti biasa dihiasi dengan senyumnya yang terlihat seperti anak kecil. Aku berbalik dan mulai memakan roti pemberiannya dengan senyum di wajahku.
Semenjak hari itu, Ben sering mengajakku berbicara. Sepertinya dia menyadari kalau aku adalah orang yang pemalu dan tidak pandai berinteraksi. Berbeda dengannya, dia adalah orang yang disenangi hampir satu sekolah. selain karena penampilannya yang menawan, sifatnya yang peduli membuatnya banyak disenangi orang. Walaupun dia sering membuat masalah di sekolah.
Suatu hari, Ben meminta nomor hpku. Alasannya dia ingin meneleponku untuk menanyakan soal-soal mengenai mata pelajaran di kelas. Mendengar alasannya itu, aku langsung memberikannya nomerku. Dia memasukkan kertas ke dalam sakunya.
Suatu malam, Ben meneleponku. Dia bertanya mengenai PR matematika kami. Setelah membahas PR, kami mengobrol cukup lama. Setelah itu aku langsung pergi tidur dengan jantung yang berdegup kencang.
“Na... Hana... Hanaaa... !!” Aku terlonjak dari kursiku. Kulihat ibuku terkejut melihat reaksiku. Kupandangi sekelilingku dengan wajah bingung. Suasana saat itu masih sama saat aku naik pesawat.
Aku berdecak kecewa. Ternyata apa yang aku alami itu semua hanya mimpi belaka. Mataku berkaca-kaca menahan air mata yang sedikit lagi akan mengalir. Tetapi aku mencoba menahannya. Takut kalau ibuku akan menyadarinya, ku usap kedua mataku dengan tisu.
Ku pandangi suasan di luar pesawat. Di luar terlihat mendung, membuat pesawat sesekali bergetar. Kami akan tiba di Jakarta sekitar 5 jam lagi, dan aku memutuskan untuk tidur kembali.
Sesampainya kami di bandara, aku dan ibuku dijemput oleh pamanku dengan menggunakan mobil sedannya. Di perjalanan, tiba-tiba terjadi sebuah kecelakaan yang menyebabkan jalanan sore hari itu macet total. Dilihat dari suasananya, sepertinya membutuhkan waktu berjam-jam untuk menghentikan macetnya.
Aku mendengarkan lagu untuk membunuh rasa bosanku. Tiba-tiba aku lihat seseorang melintas di samping mobil sedan pamanku menggunakan sepeda ontel. Dia menggunakan seragam sekolah yang seharusnya tidak aku kenali. Tetapi aku merasa pernah melihatnya, tidak aku pernah menggunakannya.
Meskipun hanya melihat sekilas siluet tubuh lelaki itu, aku sangat yakin pernah melihatnya di suatu tempat. Aku yakin itu dia. Jantungku berdegup kencang. Seutas senyuman menghiasi wajahku. Senyuman di wajahnya tidak akan pernah bisa aku lupakan.
SELESAI